This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label PR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PR. Tampilkan semua postingan

Manajemen Crisis: Siapa Yang Menjadi Juru Bicara Ketika Krisis Tiba?

Dalam berbagai pelatihan komunikasi dan media, terjadi perdebatan siapa yang harus keluar sebagai juru bicara ketika sebuah organisasi mengalami krisis. Berikut tiga argumen yang terjadi, namun bisa Anda ambil hikmahnya sesuai yang dirangkum dari www.prdaily.com
  1. CEO harus selalu menjadi juru bicara
CEO adalah suara yang selalu ditunggu ketika sebuah krisis melanda organisasi. Namun, dalam krisis, CEO seharusnya bertugas untuk me-manage krisis dan mengoperasikan bisnis. Anggapan ini memang tidak salah, khususnya dalam jam-jam krisis terjadi pertama kali, namun dengan catatan informasi telah tersedia.
Dalam sebuah krisis yang menyebabkan kecelakaan atau bersifat fatal, CEO adalah orang yang sangat ditunggu. Namun, biasanya, dalam jam pertama krisis terjadi, CEO biasanya sibuk dengan urusan lainnya.
Satu hal yang harus menjadi catatan, jangan sampai CEO melakukan salah bicara ketika krisis terjadi pertama kali karena bisa membuat dirinya kehilangan kredibilitas. Sedangkan ketika juru bicara lain melakukan kesalahan, CEO haruslah muncul untuk mengklarifikasi atau keluar sebagai pahlawan.
  1. PR harus menjadi juru bicara
PR adalah pilihan yang tepat untuk mewakili sebuah organisasi ketika krisis datang pertama kali, namun janganlah berdiri sendiri. Karenanya, PR haruslah menjadi bagian dari management ciris dan haruslah memimpin tim tersebut.
PR harus memberikan statemen di awal krisis terjadi. Ketika mereka mengetahui sebuah fakta lain, PR pun diperbolehkan untuk mengakui krisis yang terjadi, memberikan sejumlah fakta, dan memberikan kutipan yang baik dengan janji akan memberikan penjelasan lebih lanjut di kemudian hari.
  1. Jurubicara diwakili oleh berbagai orang
Tidak ada salahnya untuk memberikan pelatihan kepada jurubicara yang digelar oleh media. Dalam krisis, PR harus berbicara pada jam-jam pertama. Namun, dalam jam selanjutnya, pilihlah PR yang ahli sebagai wakil organisasi Anda. Sedangkan pada tahap terakhir, alangkah baiknya jika kesempatan berbicara diberikan kepada CEO.
Pelatihan oleh media bisa mengidentifikasi siapa pemain utama, dan siapa yang layak menjadi pemain kedua. Ingatlah, jangan membiarkan para PR berbicara tanpa sebuah pelatihan yang khusus. Jurnalis adalah orang yang ahli, jangan biarkan PR yang belum memiliki pengetahuan menghadapi mereka.



Perubahan Dunia PR di Era Sosial Media

Dunia Public Relations (PR) mengalami banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Aplikasi itu membuat konsumen semakin pintar, mudah untuk memberikan pendapat sehingga membuat merek harus terus berinovasi.
Berikut beberapa tren yang telah mengubah wajah dunia ini yang harus Anda perhatikan sebagai seorang PR:
  1. Para ahli vs Konsumen
Dulu sangat mudah untuk mencari seorang ahli yang bisa berkomentar untuk klien kita. Nah, Internet membuat semua orang bisa berkomentar sehingga sulit untuk mencari para ahli yang tepercaya. Konsumen bisa berkicau dan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang ahli dan komen mereka pun bakal didengar oleh pengguna sosial media lainnya.
Ketika Anda meminta seorang ahli berkomentar untuk produk Anda, jangan heran jika pendapat itu bisa ditentang oleh konsumen. Hebatnya, komentar konsumen bisa lebih didengar ketimbang para ahli itu.
  1. Wartawan vs konsumen
Dunia internet telah membuat segala informasi bisa didapatkan dengan mudah, kapan pun, di mana pun, dan oleh siapa pun. Begitu pula kehadiran sebuah informasi.
Dulu, banyak orang yang bergantung dengan media tradisional. Namun, seiring perkembangan zaman, komen konsumen di sebuah media sosial –meskipun hanya terdiri dari 140 karakter- bisa lebih dipercaya ketimbang berita dari sebuah media.
  1. Konsumen semakin kritis
Tidak jarang, brand atau merek menampilkan data berupa statistik. Namun, di era konsumen yang semakin pintar, mereka tidak dengan mudah mempercayai sebuah iklan, apalagi sebuah statistik yang Anda sajikan. Mereka menjadi semakin teliti. Artinya, para brand pun dituntut untuk memberikan perhatian khusus terhadap data atau iklan yang diberikan. Janganlah coba-coba untuk membohongi mereka.
  1. Semua bisa menjadi penilai
Sosial media telah mengubah wajah bisnis. Jika Anda memiliki sebuah brand yang apik, para konsumen pun bisa menjadi advocates Anda. Mereka tidak segan-segan memberikan komen yang baik sehingga memberikan dampak yang positif bagi produk Anda.
Namun, jika produk Anda tidak memuaskan, jangan heran jika mereka juga akan membagi pengalaman buruk itu kepada teman-temannya sehingga bisa merusak brand image Anda. Sebagai seorang PR, yang juga konsumen, tentunya Anda mengetahui hal ini bukan?

9 Referensi Film Bagi Praktisi PR

Percaya atau tidak , lingkup dunia PR sendiri banyak menjadi objek sebuah film selama beberapa dekade belakangan ini.
Namun, aspek trend dunia politik dan bagaimana Kampanye politik sering sekali menjadi topic atau agenda film jika melibatkan seorang praktisi PR. Sayangnya   juga , dalam beberapa aspek tertentu, seorang praktisi PR memang tidak berperan sangat besar di dalam film-film ini. Bahkan ada ada kecenderung peran PR berada pada posisi ‘darkside’ , dan ini sering terlihat dari sisi penulisan naskah film-film tersebut.
Dari sudut cerita film ini, peran seorang praktisi PR banyak berperan sebagai Konsultan atau managers beberapa atlit dan selebrity (seperti dalam film Jerry maguire, People I know) atau berhadapana pada sisi bisnis yang sangat sensitive (delicate business interest) (seperti dalam film thank you for smoking, The insider) atau lebih menarik lagi , dilihat dari sisi ketertarikan publik akan suatu skandal (Wag the Dog).
Ada banyak juga contoh film yang melihat bagaimana pentingnya komunikasi di dalam perusahaan (Smoking room) atau pengaruh opini public misalnya? (The Queen, all the President’s Men), atau kasus kasus yang penting akan perannya media training (Frost/Nixon). Kami coba sadurkan beberapa beberapa film yang mungkin bisa jadi sangat menarik untuk ditonton oleh para praktisi PR dan semoga memberi inspirasi baru kepada Anda.
Silahkan menikmati.
  1. The candidate (1972)
Film ini menceritakan tentang kampanye kandidat untuk senator, menghadirkan bagaimana cara kerja serta dapur kerjanya para politisi Amerika serta strategy political marketing disana.
The Candidate
  1. Wag the Dog (1997)
Setelah tertangkap basah dengan situasi yang skandal sebelum pemilihan ulang Presiden dari Amerika Serikat ini, Presiden memutuskan untuk mengkaji ulang permasalahan yang menarik perhatian Pers. Salah satu saran dari produser hollywood tersebut adalah menciptakan ‘smokescreen‘ dan perang yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Wag The Dog
  1. Thank you for smoking (2005)
Nick Naylor, seorang jurubicara dari salah satu perusahaan rokok terbesar, yang mengharuskan dirinya membela hak untuk merokok dan melawan siapa saja yang melarangnya. Nick mulai dengan Public relations offensive, menghapuskan kampanye kampanye akan bahayanya merokok dari pemberitaan TV hingga hiring sebuah agen hollywood untuk mempromosikan rokok dalam film.
Thank You For Smoking
  1. The ides of March (2011)
Seorang anak muda idealist mulai bekerja sebagai seorang communications director untuk mensukseskan sebuah partai demokrat untuk pemilihan selanjutnya. Selama berkampanye, dia melakukan banyak sekali hal-hal kotor untuk mendapatkan apa pun itu untuk memperoleh kesuksesannya.
the_ides_of_march_poster
  1. Smoking room (2002)
Sebuah perusahaan Amerika dipaksa uuntuk melarang seluruh karyawannya merokok. Siapa pun yang ingin merokok during working hours harus diluar dari kantor atau dijalan. Ramirez, salah satu karyawan diperusahaan tersebut, memulai suatu perkumpulan dalam suatu ruangan yang sudah tidak terpakai untuk digunakan sebagai “smoking room“.
Smkoing Room
6.The Queen (2006)
Film ini secara garis besar menceritakan kejadian politik yang terjadi ketika kematiannya Princess Diana. Memang hanya fokus pada pembicaraaan antara Queen Elizabeth II dan prime minister Tony Blair untuk mendapatkan kesepakatan terhadap rekasi publik akan ‘silence‘ dari keluarga kerajaan. Film ini menjadi konflik tersendiri bagi keluarga kerajaan yang seakan-akan tidak peduli dan bagaimana recovery untuk membalikan image kerajaan itu sendiri.
The Queen
  1. Frost/Nixon (2008)
Interview, dari seorang jurnalist terkenal David Frost dengan presiden Nixon di 1997 terhadap mandat-nya akan ‘the watergate’ scandal setelah 3 tahun berturut-turut tidak angkat bicara. Bagaimana cara David menginterview adalah salah satu contoh yang sangat baik untuk seorang spokeperson.
forst_nixon
  1. People I know (2002)
Alpacino berperan sebagai seorang Public Relations expert yang berperan untuk menjaga image selebriti, tetapi dia terjebak disuatu plot yang kurang baik.
people_i_know_ver2
  1. The Insider (1999)
Alpacino kembali berperan cukup berat dalam film ini dan film ini meraih hingga 7Nominasi Oscar. Film ini merupakan American drama yang berdasarkan dari cerita sesungguhnya tentang seorang Whistleblower bernama Jeffrey Wigand dari sebuah perusahaan rokok ternama di Amerika. Segment ini adalah segmen 60 minutes, program yang sangat terkenal disana.
the-insider


KEDUDUKAN PUBLIC RELATION DALAM ORGANISASI




Sebagai suatu pendukung manajemen, peran Humas sangat penting dan strategis bagi setiap organisasi. Tidak ada yang meragukan peran itu. Namun, kerap menjadi pertanyaan kemudian, apa dan bagaimanakah letak atau kedudukan Humas dalam struktur organisasi perusahaan, sehingga pada akhirnya peran yang diharapkan akan dilakukan Humas itu bisa terwujud? Dalam praktek, status dan besarnya perusahaan tidak otomatis diikuti oleh kesadaran untuk menyelenggarakan fungsi Humas pula. Perusahaan besar tidak selalu berarti memiliki departemen Humas yang besar pula. Banyak perusahaan besar yang ternyata memiliki departemen Humas yang kecil. Sebaliknya, perusahaan yang relatif kecil ternyata mempekerjakan banyak staf Humas,dan bahkan bagian Humas itu masih pula dibantu oleh konsultan Humas dari luar organisasi.

Kedudukan humas dalam organisasi dan kewenangan petugasnya tidak selalu dapat dinyatakan dengan tegas. Menurut John Tondowijojo, bila humas diakui sebagai bagian jajaran kebijakan pimpinan, maka humas harus berada langsung dibawah direksi. Humas harus mampu menyampaikan kebijaksanaan pimpinan, sehingga ia harus langsung berada dipihak yang berhubungan dengan pimpinan seluruh jajaran manajemen. Sedangkan menurut Renald Khasali, public relations merupakan fungsi manajemen yang sama pentingnya dengan pemasaran, produksi, keuangan dan SDM.

Menurut Tondowidjojo, kegiatan humas haruslah sistematis dan terencana, tetapi kadang-kadang juga perlu untuk berimprovisasi dan berinovasi. Suatu kebijakan harus dipertimbangkan, dirumuskan, direncanakan dan evaluasi. Untuk ini diperlukan analisis data yang diperoleh tentang organisasi dan lingkungannya. Seberapa jauh PR harus menapakkan kakinya ke peran internal atau fungsi eksternal, tentu saja sepenuhnya tergantung pada kebijakan manajemen. Hanya saja kalau kita menginjak pada tataran ideal fungsi PR, tentu saja keseimbangan peran internal dan eksternal adalah perlu. Seberapa jauh titik keseimbangan tersebut harus dijalankan tentu tergantung pada bidang gerak perusahaan/organisasi yang bersangkutan.

Semakin kuat kedekatan perusahaan dengan publik dengan sendirinya membutuhkan banyak konsentrasi untuk memerhatikan publik. Sebaliknya kalau perusahaan lebih banyak bergerak pada komunitas yang tidak secara langsung menemui publik, maka peran PR harus dioptimalkan secara internal.

Morisan, seorang pakar Humas, dengan sangat tepat menguraikan kedudukan Humas dalam konteks organisasi/perusahaan. Menurutnya, ada tiga hal yang turut menentukan, eksistensi departemen Humas pada setiap perusahaan yaitu: Pertama, ukuran organisasi atau perusahaan itu sendiri. Suatu perusahaan kecil mungkin tidak terlalu membutuhkan unit humas tersendiri karena fungsi itu mungkin bisa dirangkap bagian lain. Pada beberapa organisasi tertentu fungsi Humas langsung dirangkap oleh salah seorang Direkturnya. Namun suatu perusahaan besar yang memiliki hubungan dengan khalayak luas sudah cukup membutuhkan suatu departemen Humas tersendiri dengan staf lengkap.

Kedua, nilai atau arti penting fungsi Humas bagi manajemen. Besar kecilnya departemen Humas terkadang dipengaruhi oleh pengetahuan atau kebutuhan pimpinan perusahaan terhadap peran Humas bagi kepentingan organisasi atau perusahaan. Suatu perusahaan keluarga atau perusahaan milik pribadi yang cenderung tertutup, biasanya tidak merasa terlalu membutuhkan fungsi Humas, kalaupun ada, hanya kecil saja. Kondisi ini berbeda dengan perusahaan terbuka yang sudah go public, yang harus lebih transparan, sehingga membutuhkan fungsi humas yang lebih aktif. Disini, pemahaman dan penghayatan pucuk pimpinan terhadap keberadaan Humas sebagai pendukung lini strategis organisasi tentu menjadi sangat menentukan.

Ketiga, karakteristik organisasi atau perusahaan. Setiap perusahaan pasti memiliki kebutuhan tersendiri yang tidak bisa diseragamkan dengan kebutuhan perusahaan lain. Perusahaan pembuat produk konsumen yang bersifat massal, semisal: sabun, shampo atau makanan, pasti lebih mengarahkan dana untuk keperluan periklanan, dan tidak terlalu mementingkan Humas. Hal ini berbeda dengan perusahaan industri yang bersifat teknis misalnya perusahaan yang membuat produk hasil teknologi baru atau perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, reksadana, investasi dan sebagainya yang akan lebih mementingkan kegiatan-kegiatan Humas demi mendidik pasar daripada beriklan semata-mata. Humas sebagai fungsi manajemen bagi organisasi tentu diarahkan dalam rangka mencapai tujan organisasi. Ketiga hal ini, bisa menjelaskan mengapa pada suatu organisasi/perusahaan tidak ditemukan departemen Humas, sementara pada organisasi lainnya, Humas menjadi suatu departemen yang sangat berpengaruh dan penting.

Komunikasi dalam Manajemen

Organisasi yang merupakan kerangka kerja (frame of work) dari suatu manajemen adalah sesuatu yang menunjukkan adanya pembagian tugas, wewenang dan tanggungjawab yang jelas antara pimpinan dan bawahan dalam suatu suatu sistem manajemen modern. Jabatan pimpinan dalam manajemen PR biasanya disebut manajer humas dan berfungsi sebagai pemimpin sekelompok karyawan. Manajer humas sebagai pimpinan puncak (top manajer) cukup melakukan komunikasi dengan para penanggungjawab atau ketua unitnya masing-masing.

Komunikasi manajemen adalah hal yang paling pokok atau nomor satu, hal ini sesuai dengan pendapat GR Terry “Management is a communication”, yaitu dalam hal penyampaian instruksi di satu pihak, dan pelaksanaan kewajiban di lain pihak. Dengan kata lain manajemen komunikasi adalah alat, bukan tujuan dari suatu organisasi.

a)        Komunikasi vertikal

Yakni, komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, adalah komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada atasan secara timbal balik. Dalam komuniksi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, penjelasan-penjelasan dan lain-lain kepada bawahannya. Sementara bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan kepada pemimpin. Pimpinan perlu mengetahui laporan, tanggapan, atau saran para karyawan sehingga suatu keputusan atau suatu kebijaksanaan dapat diambil dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi yang lancar, terbuka dan saling mengisi merupakan mencerminkan sikap kepemimpinan yang demokratis. Komunikasi dalam organisasi dapat ditijau dari dua aspek, yakni aspek manajemen komunikasi dan aspek hubungan antar manusianya.

b)        Komunikasi Horizontal

Komunikasi secara mendatar antara anggota staff dengan anggota staff, karyawan sesama karyawan dan sebagainya. Komunikasi ini seringkali berlangsung tidak formal, mereka berkomunikasi satu sama lain bukan pada waktu mereka sedang bekerja, melainkan pada saat istirahat atau waktu pulang kerja. Dalam situasi komunikasi seperti ini, desas-desus cepat sekali menjalar, dan yang didesas-desuskan seringkali mengenai hal-hal yang menyangkut pekerjaan atau tindakan pimpinan yang merugikan mereka.

c)        Komunikasi Eksternal

Komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi, seperti instansi-instansi pemerintah, departemen-departemen, jawatan-jawatan, perusahan-perusahan, dan lain-lain.

Proses Manajemen Pubic Relations


Public Relation merupakan suatu bentuk kegiatan komunikasi dimana Public Relations lebih menitik beratkan kepada usaha untuk mempengaruhi pendapat public agar dapat bersikap, berpendapat, dan bertingkah laku seperti apa yang telah diharapkan, serta menumbuhkan suasana kerjasama, menciptakan saling pengertian antara public yang berkepentingan dengan perusahaan guna mendapatkan tujuan kedua belah pihak dalam suasana yang saling menguntungkan. 

Berdasarkan uraian tersebut, maka publik relations dapat diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan yang sekaligus juga merupakan proses komunikasi. Oleh karenanya diperlukanlah suatu tahap yang memungkinkan proses dan kegiatan public relations itu dapat berjalan.
Adapun proses publik relations dibagi menjadi dua yakni
  1. Proses Internal Public Relations
  2. Proses Exsternal Public Relations

Dalam melaksanakan kegiatan Public Relations tersebut, terdapat tahapan-tahapan untuk mencapai tujuan yang efektif. Tahapan-tahapan tersebut merupakan pola kegiatan komunikasi atau proses Public Relations. Adapun tahapan-tahapan itu menurut Scott M. Cutlip & Allen H. Center proses manajemen public relations sepenuhnya mengacu kepeda pendekatan manajerial. Proses perencanaan ini dapat dilakukan melalui “Empat tahapan atau langkah-langkah pokok” yang menjadi landasan acuan untuk pelaksanaan program kerja kehumasan adalah sebagai berikut :

  • Fact Finding :
Seorang PR harus bisa menjadi seorang intelejen perusahaan guna mengetahui permasalahan dan data yang diperlukan untuk mengetahui situasi perusahaan/organisasi saat ini. Untuk mengetahui keadaan perusahaan saat ini, salah satunya adalah dengan melakukan riset. Riset dapat dilakukansecara informal dan formal. Seorang PR harus mampu mendefinisikan permasalahan yang dilakukan melalui penelitian dengan menganalisa situasi berupa pemahaman, opini, sikap dan perilaku publik terhadap lembaga. 
Penelitian metode informal dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mengontak informan yang dibutuhkan, melakukan focus group discussion, melakukan analisis online, dan lainnya. Sedangkan riset formal dapat dilakukan dengan mengkaji database online, menganalisis isi wacana, maupun melalui survey. Biasanya, setiap riset digunakan untuk melengkapi data yang ada dan menemukan situasi perusahaan terkini dan masalah yang perlu diatasi guna memberikan citra yang baik.
  • Planning :
Setelah menemukan data dan permasalahan dari perusahaan/organisasi, maka diperlukan strategi dan cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Strategi yang dibuat haruslah tepat, jangan sampai strategi membuat langkah yang salah dan membuat permasalahan komunikasi yang baru bagi perusahaan, atau bahkan krisis di perusahaan tersebut. Strategi yang telah disusun kemudian diturunkan melalui berbagai program atau aktivitas yang dapat dilakukan secara konkret. Perencanaan yang dilakukan dapat meliputi misi dan peran, indikator keberhasilan, menentukan target audience, budgeting, timeline, dan aksi secara lebih rinci.
  • Communicating :

Langkah ketiga dalam Manajemen PR adalah mengimplementasikan perencanaan strategi yang telah disusun. Dalam tahap ini PR harus mengkomunikasikan pelaksanaan program sehingga mampu mempengaruhi sikap publiknya yang mendorong mereka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Dalam eksekusi program, PR harus bisa membingkai pesan yang ingin disampaikan sehingga mudah diterima oleh target audience. Tentunya, aksi, strategi maupun program yang dilakukan harus responsif terhadap permasalahan. Program yang dilakukan pun harus terkoordinasi dengan baik guna mencapai hasil yang diinginkan. Rencanakan program anda sebaik mungkin, jangan lupa siapkan Plan B jika hasil tidak sesuai ataupun proses tidak berjalan sesuai rencana.
  • Evaluating :
Proses Manajemen PR tidak hanya berhenti sampai perencanaan strategi dan implementasi program, namun membutuhkan proses evaluasi untuk mengukur keberhasilan program yang dilakukan. Tahap ini PR melakukan penilaian terhadap hasil-hasil pelaksanaan program dari perencanaan, pelaksanaan program, pengkomunikasian, sampai keberhasilan atau kegagalan yang terjadi dari program tersebut. Dalam proses evaluasi, selain memungkinkan seorang PR untuk menilai efektivitas program PR yang sudah dilakukan,evaluasi juga membantu dalam menyusun perencanaan strategi dan program selanjutnya. Evaluasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melaksanakan riset evaluasi. Riset dilakukan untuk mengukur proses yang sudah dilakukan dengan standar indikator yang ditetapkan di awal perencanaan strategi.


Dalam prakteknya, keempat proses Manajemen PR ini akan terus dilakukan berkelanjutan. Proses yang berkelanjutan ini biasa disebut PR Cycle, terus berputar dan berkesinambungan. 



referrences:
  • Cutlip, Scott M., Allen H. Center, Glen M. Broom. 2009. Effective Public Relations: Tenth Edition. United State of America: Prentice Hall
  • Dan, Lattimore; Baskin, Otis; Arronoff, Craig. 1997. Public Relations: The Profession and The Practice. United States of America: Brown & Benchmark Publishers

Public Relation Activity




Public relations sebagai fungsi manajemen yang membangun dan mempertahnkan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut. (Scott M. Cutlip, 2007:6)
Fungsi dasar PR bukan untuk menampilkan pandangan organisasi atau seni sikap publik, tetapi untuk melakukan rekonsiliasi atau penyesuaian terhadap kepentingan publik setiap aspek pribadi organisasi maupun perilaku perusahaan yang punya signifikan sosial. Jadi di sini PR berfungsi membantu organisasi melakukan penyesuaian terhadap lingkungan tempat organisasi tersebut beroperasi.
Bagian-Bagian dari Fungsi PR:
Hubungan Internal, adalah bagian khusus PR yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi mengantungkan kesuksesannya
Publisitas, adalah sumber-sumber informasi yang disediakan oleh PR dan digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah pesan di media ini adalah metode yang tak bisa dikontrol (uncontrolled) sebab sumber informasi tidak memberi bayaran kepada media untuk pemuatan informasi tersebut.
Advertising, informasi yang digunakan oleh PR untuk menjangkau audien yang lebih luas, bukan untuk konsumen yang menjadi sasaran marketing, dimana informasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode terkontrol dalam menempatkan pesan di media.
Press Agentry, adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik media massa dan mendapatkan perhatian publik. Banyak praktisi PR kadang-kadang menggunakan taktik press agentry untuk menarik perhatian media kepada kliennya, organisasinya, atau tujuannya. Tetapi PR lebih dari sekedar press agency.
Public Affairs adalah bagaian khusus dari PR yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas lokal dalam rangka memengaruhi kebijakan publik.
Lobbying adalah bagian khusus dari PR yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah terutama dengan tujuan memengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.
Manajemen Isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengindentifikasi, mengevaluasi, dan merespon isu-isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka. Secara administratif atau secara konseptual, manajemen isu adalah bagian fungsi PR, akan tetapi, jika dilihat sebagai komunikasi persuasif, ia menjadi taktik untuk memengaruhi kebijakan publik, bukan sebagai bagian dari perencanaan strategi organisasi.
Hubungan Investor adalah bagian dari PR dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak lain di dalam komunikasi keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar
Pengembangan adalah bagian khusus dari PR dalam organisasi nirlaba yang bertugas membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela.

Kegiatan-kegiatan kehumasan meliputi:
Customer Relations, seperti membangun hubungan baik dengan pihak luar,maksudnya menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan public dan hubungan dengan konsumen
Employee relations, seperti membangun hubungan antara pimpinan dengan bentuk kerjasama dan komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan.
Community relations, seperti membangun hubungan baik dengan pihak-pihak yang selama ini telah melakukan kerja sama dengan perusahaan yang kita wakili, menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar perusahaan dan komunitas-komunitas masyarakat tertentu.
Government relations, seperti menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah.

Media Relations, seperti menjalin hubungan baik dengan media, karna kerja humas tidak akan pernah berhasil tanpa adanya kerjasama yang baik dengan media, jadi hubungan itu harus dijaga dengan baik dan tidak ada yang dirugikan.

Peran Public Relaton Dalam Organisasi


Sebetulnya memformulasikan apa peran PR dalam organisai bukanlah hal yang mudah.
Beberapa penulis mencoba memetakan bahwa pada dasarnya peran PR dalam sebuah organisasi adalah sebagai berikut:

1. Communication Tehnician

Beberapa praktisi memasuki dunia PR ini sebagai teknis. Pada tahap ini kemampuan jurnalistik dan komunikasi sangat diperlukan. PR diarahkan untuk berperan menulis, menulis news letter, menulis in house journal, menulis news release, menulis feature, dll. Biasanya praktisi dalam peran ini tidak hadir pada saat manajemen menemui kesulitan. Mereka tidak dilibatkan dalam manajemen sebagai pengambil keputusan. Peran mereka lebih ke arah penulisan tools dan mengimplementasikan program. Mereka sebagai "the last to know"

2.Expert Prescriber

Praktisi PR sebagai pendefinisi problem, pengembang program dan memeiliki tanggungjawab penuh untuk mengimplementasikannya. Mereka sebagai pihak yang pasif. Manajer yang lainnya menyerahkan tugas komunikasi sepenuhnya ke tangan si "komunikasi" ini. sehingga mereka dapat mengerjakan pekerjaan mereka yang lainnya.Tampaknya bangga karena PR semacam ini dianugerahi kepercayaan tinggi tetapi karena tidak adanya keterlibatan top manajemen dalam peran PR maka PR seolah terisolir dari perusahaan. Ia sibuk sendiri dengan pekerjaannya. 

Di pihak manajemen mereka juga menjadi sangat tergantung kepada PR nya. Mereka menjadi minim komitmen kepada tugas – tugas PR, padahal seperti diketahui seharusnya tugas PR harusnya dilakukan oleh semua orang yang ada dalam sebuah perusahaan,

Dalam hal diffusi peran dan fungsi PR sehingga mereka paham spirit perlunya PR bagi perusahaan menjadi rendah dan tidak akan tersosialisasi bahkan terburuk akan hilang kepercayaan top manajemen akan fungsi PR bagi sebuah organisasi. Hal ini akan terjadi apabila top manajemen banyak merasa dikecewakan oleh PR yang dianggap mereka sebagai pakar.

3.Communication Facilitator

PR sebagai pendengar setia dan broker informasi. Mereka sebagai penghubung, interpreter dan mediator antara organisasi dan publiknya. Mereka mengelola two way communicationnya dengan cara membuka rintangan komunikasi yang ada/yang terjadi. Tujuannya dalam hal ini adalah untuk menyediakan kebutuhan dua belah pihak akan informasi, membuat kesepakatan yang melibatkan minat keduabelah pihak.

Para pelaku dengan peran ini menempatkan dirinya sebagai sumber informasi dan sebagai kontak antara organisasi dan publiknya. Sebagai wasit dari interaksi, memantapkan agenda yang akan didiskusikan antara dua belah pihak, menyimpulkan pandangan, bereaksi terhadap kasus, membantu partisipan mendiagnosa masalah, membantu menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan komunikasi. Mereka menjadi boundary spanner antara perusahaan dan publiknya. Mereka bekerja di bawah asumsi bahwa two way communication mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan organisasi dan publik dalam hal prosedur, kebijakan, serta tindakan lain yang berhubungan dengan minat kedua belah pihak.

4.Problem Solving Facilitator

Mereka berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan dan memecahkan masalah. Mereka menjadi bagian dalam manajemen stratejik perusahaan. Bergabung dengan konsultan mulai dari awal direncanakan program hingga evaluasinya. Membantu manajemen menerapkan PR sebagai tahapan fungsi manajemen yang sama dengan kegiatan manajemen yang lain.

PR berfungsi sebagai bagian penting penganalisis situasi, memiliki peran yang intens dalam pengembangan prosedur, kebijakan, produk dan aksi perusahaan. Mereka juga memiliki power mengubah sesuatu yang seharusnya diubah. Mereka harus terlibat dalam segala bentuk perubahan organisasi.

Melalui peran ini mereka menjadi paham spirit setiap program baik motivasi maupun tujuan mengapa program harus dilaksanakan, mereka mensupport perubahan strategis organisasi, keputusan yang sifatnya taktis dan memiliki komitmen pada perubahan dan mampu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian tujuan program.

Mereka dimasukkan sebagai tim manajemen karena mereka mampu menunjukkan kemampuan dan nilai dalam membantu manajemen menangani serta menyelesaikan permasalahan